Yogyakarta.. Antara Surga, Neraka dan Mahasiswa Baru..

Selamat datang saya ucapkan buat mahasiswa-mahasiswi baru dan juga orangtua yang mengantar putra putrinya datang ke jogja. Pada awal kedatangan selamat menikmati suasana Jogja Berhati Nyaman dengan gudeg, sego kucing dan makanan khas lainnya. Tulisan ini sebenarnya dipersembahkan buat mahasiswa baru atau mereka yang ingin referensi tentang bagaimana jogja sebagai kota pendidikan dan kota pelajar, walaupun sebenarnya kota wisata dan kota kebudayaan juga akan mempengaruhi didalamnya. Pertanyaannya adalah mengapa Yogjakarta? Mengapa bukan tempat lain seperti Bandung, Jakarta, Surabaya? Ya, karena Jogjakarta termasuk 10 besar provinsi yang mempunyai perguruan tinggi terbanyak di indonesia. Jogja juga merupakan miniatur kecil dari INDONESIA karena mahasiswa yang datang untuk menimba ilmu kejogja juga berasal dari 34 provinsi di indonesia. Selain mahasiswa dalam negeri ada juga mahasiswa luar negri yang biasanya ikut dalam program student exchange yang berasal dari Malaysia, India, Srilanka, Afrika, Australia, Korea, Jepang. Jogjakarta juga menjadi pilihan karena kebutuhan hidup yang masih murah, masyarakatnya yang masih menjunjung adat istiadat budaya timur, juga faktor keamanan yang lebih kondusif daripada kota besar lainnya membuat sebagian calon mahasiswa dan orang tua yang akhirnya memilih atau memberikan ijin agar anaknya kuliah dijogja. Kembali ke pokok masalah mengapa Jogjakarta bisa jadi surga atau neraka buat mahasiswa baru. Mengambil peribahasa bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian maka disini akan saya berikan gambaran neraka dahulu. Neraka saya artikan sebagai pengganti dari kata penyebab faktor kegagalan, racun mahasiswa atau efek negatif yang ditimbulkan diantaranya: Narkoba, Hiburan dan Pergaulan bebas. Walaupun keberadaan peredaran narkoba ini tidak terekspose sebanyak kota besar yang lain karena keistimewaannya tetapi barang terlarang ini cukup efisien membawa dampak menuju neraka mahasiswa. Selain rasa malas dan susah dalam menerima ilmu perkuliahan, barang ini juga bisa membawa bencana bagi keluarga baik moril atau materil. Secara moril jelas berhubungan dengan malu, marah dan lain-lain. Secara materil sangat banyak dana yang harus dikeluarkan untuk kasus ini. Istilah dijalanan untuk kasus narkoba: ibarat orangtua datang dengan setelan kemeja, maka nanti pulang hanya memakai kolor. Masih lumayan bila menjalani sebentar kemudian bisa melanjutkan kuliah, tetapi berdasarkan pengalaman penulis banyak yang akhirnya Drop Out dan ditarik pulang kedaerahnya baik di Universitas Swasta bahkan Negeri. Ini mengisyaratkan bahwa resiko narkoba sangatlah berat dan mahal. Hiburan malam yang sangat banyak seperti club malam dan bar sebenarnya juga merupakan tempat untuk menghilangkan penat setelah seharian kita bekerja, berpikir dan memeras otak. Clubbing juga merupakan gaya hidup kebarat-baratan yang mulai menjamur dikota besar Indonesia. Wajar apabila sebagai mahasiswa ingin juga mencari tahu seperti apa suasana club atau bar yang ada. Yang menjadi masalah apabila kemudian gaya hidup ini dipaksakan maka akan mempengaruhi fokus utama mahasiswa sebagai pencari pengetahuan. Anggap saja materi atau cara kita pergi keclub tersebut bisa didapat dengan jalan apa saja, yang menjadi masalah apabila out of control dari pengaruh hiburan tersebut seperti tidak bisa mengikuti kuliah karena kecapekan/kesiangan, mabuk atau gitting’ berat karena pengaruh alkohol yang mengakibatkan perkelahian atau kecelakaan yang bisa saja mengakibatkan kematian. Hal ini juga yang harus disingkapi oleh calon mahasiswa dan para orangtua. Sedangkan pergaulan bebas itu sendiri terjadi dikarenakan jauhnya perhatian dari orang tua, situasi rumah kontrakan yang bebas, tidak adanya induk semang di kos-kosan, lingkungan sekitar yang tidak perduli banyaknya kos-kosan bebas serta seberapa besar agama mampu memproteksi dirinya. Perhatian yang jauh dari orang tua akan membuat mahasiswa mencari perhatian dari orang lain. Apalagi diusia yang masih puber, mahasiswa akan mencari perhatian dari lawan jenisnya atau pasangannya. Perhatian dari lawan jenis ini yang bila tidak dilandasi dengan norma-norma yang baik juga akan membawa mahasiswa menuju nerakanya seperti fokus kuliah terganggu, terjadinya hubungan sex yang mengakibatkan pengguguran kandungan / aborsi bahkan bisa juga gila. Surga mahasiswa saya istilahkan sebagai pengganti istilah yang menyenangkan tetapi positif. Mungkin lebih banyak hal yang menjadikan jogja sebagai surga mahasiswa dibandingkan sebaliknya. Seperti masyarakat yang ramah, situasi yang aman, biaya hidup yang terjangkau, banyaknya alternative tempat wisata, banyaknya pendidikan non formal dan sebagainya. Mayarakat yang ramah bisa dijumpai dalam senyum dan canda keseharian yang merupakan ciri budaya dijogja bukan berarti ramah terus tidak bisa marah loh yaa. Ada baiknya calon mahasiswa yang akan datang ke jogja biasakanlah membalas senyum atau menyapa dengan senyuman kepada orang yang lebih tua agar kita juga dihargai. Situasi aman bisa terlihat ketika malam hari bahkan dini haripun masih terlihat orang pulang atau pergi naik motor bahkan berjalan kaki tanpa rasa was-was ketakutan. Biaya hidup terjangkau sebenarnya ditentukan oleh kualitas hidup itu sendiri. Tetapi untuk ukuran normal dalam 1 bulan sekitar 1 jutaan dengan rincian 200rb/bln untuk kos, 750rb utk makan 3kalix30hari. Dan tentu saja apabila bisa memasak sendiri bisa lebih murah. Jika meginginkan tambahan pengetahuan banyak tempat yang mendukung seperti kursus toefl, bahasa, komputer, grafis dsb. Diakhir tulisan penulis hanya ingin memberikan saran, ya hanya sebatas saran :